Batam – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang sedang melaksanakan program Belajar Bersama Masyarakat (BBM) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kegiatan penanaman mangrove tersebut dilaksanakan pada Minggu (12/7/2026) di kawasan pesisir pantai yang berada di samping Rezeki Seafood, Batu Besar. Aksi penghijauan itu turut mendapat dukungan dari masyarakat setempat yang ikut berpartisipasi dalam proses penanaman.
Koordinator Kelompok BBM Universitas Negeri Malang, Adam Wardana, mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, mengatakan bahwa penanaman mangrove merupakan salah satu program kerja yang bertujuan membantu mengurangi risiko abrasi di wilayah pesisir.
“Lokasi mangrove yang kami tanam berada di pinggir pantai, tepat di sebelah Rezeki Seafood Batu Besar. Jumlah bibit yang kami tanam memang tidak banyak, namun kami berharap langkah kecil ini dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Adam kepada awak media, Kamis (16/7/2026).
Adam menjelaskan, program BBM Universitas Negeri Malang berlangsung selama kurang lebih 45 hari, yakni sejak 14 Juni hingga 28 Juli 2026. Selama masa pengabdian tersebut, para mahasiswa melaksanakan berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
“Sebagian besar anggota kelompok kami berasal dari Kepulauan Riau. Melalui program ini kami kembali ke daerah asal untuk mengabdi sekaligus berkolaborasi dengan masyarakat. Selain berbagi pengetahuan, kami juga banyak belajar dari pengalaman masyarakat selama menjalankan program BBM,” katanya.
Ia berharap seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dapat memberikan manfaat nyata, khususnya penanaman mangrove yang diharapkan mampu menjaga kawasan pesisir Batu Besar dari ancaman abrasi.
Sementara itu, anggota kelompok BBM lainnya, Syahza, mengungkapkan bahwa sebelum penanaman dilakukan, tim terlebih dahulu melakukan survei guna menentukan lokasi yang paling tepat.
“Hasil survei menunjukkan kawasan pesisir di RT 2 masih cukup rentan terhadap abrasi sehingga kami memilih lokasi tersebut. Sementara di sekitar RT 1 kondisi lahannya sudah berubah dan sebagian merupakan kawasan proyek milik perusahaan,” jelasnya.
Syahza menambahkan, pihaknya menduga perubahan kondisi tanah di kawasan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas proyek yang berada di sekitar lokasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hasil pengamatan di lapangan dan berharap pemerintah terus meningkatkan pengawasan terhadap kawasan pesisir.
“Kami mendukung upaya pemerintah dalam menjaga kawasan pesisir. Pantai merupakan bagian dari lingkungan sekaligus identitas kampung Melayu yang harus dijaga bersama agar tetap lestari,” tambahnya.
Ketua RW setempat turut mengapresiasi kepedulian para mahasiswa terhadap lingkungan. Menurutnya, penanaman mangrove merupakan langkah positif yang diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa atas kepeduliannya terhadap lingkungan. Kami bersama para Ketua RT akan turut mengawasi mangrove yang telah ditanam agar dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.
Program Belajar Bersama Masyarakat Universitas Negeri Malang ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dapat menghasilkan kegiatan yang berdampak positif, khususnya dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir melalui penanaman mangrove sebagai upaya mitigasi abrasi.(Red)
Editor: Redaksi






